Tuesday, March 14, 2006



















Sanggar Teater Ragil di Singosari

Jumat sampai Minggu, 3 s.d. 5 maret 2006 sanggar teater Ragil surabaya berlatih di sanggar Teater Ragil di singosari tepatnya Puri Singosari blok A 22.
Untuk mencapai lokasi sanggar cukup mudah, dari arah Surabaya turun di restoran Cobra Agung.Jalan dikit ke barat ada gapura militer, lalu naik ojek ke lokasi cukup dua ribu rupiah.
Sanggar teater Ragil terletak di bagian timur dari perumahan, berbatasan langsung dengan mess angkatan darat.
Di pinggir jalan ada papan nama Sanggar Teater Ragil Surabaya [ seperti foto diatas ..].
Delapan anggota Teras [Teater ragil surabaya] ,sabtu sore[4/3] sedang berlatih sebuah naskah yang judulnya masih dirahasiakan.
Berlari lari kecil disekitar perumahan,ditemani beberapa anak kecil [ah jangan jangan satu diantara mereka akan jadi pemain teater handal..] lalu reading .Mas Meimura memberi petunjuk sambil berdiri di luar lingkaran.

Friday, March 03, 2006

SAJAK-SAJAK H.U.MARDI LUHUNG

LAWAN CINTA

Berbahagialah bagi percintaan yang berlangsung lama
karena di situ,kau dapat memeluk [tanpa mengukur]
jenis-kelamin-lawan-cintamu yang memelar dan
memelar,memenuhi ranjang,ruang-ranjang dan terus
memasuki tubuh :"Lubang-tubuhmu,"

dan di lubang tubuhmu, beilah lawan-cintamu itu
sebuha kota yang penuh si manusia-tanpa-kepala, si manusia
yang hanya ngomong lewat degup dan rentangan tangan
yang seluas pagi,pagi yang hasrat untuk berbisik:
"Matikan seluruh berita,matikan seluruh nyanyian,laporan
dan siasat yang membusuk".


lalu, diantara matinya siasat yang membusuk,simaklah
pesan lawan-cintamu yang telah ditorehkan di paha yang
disajikannya itu,pesan yang telah dikempit
jantung si-manusia-tanpa-kepala,lewat sepedanya yang
melayang,sepeda yang rodanya menggeser-geser-bungkus-besinya,
sepeda yang dikayuh secara lurus-miring,ke arah bulan biru
dengan perumpamaan yang membiru

dan lewat perumpamaan yang membiru,makhluk apa yang
telah mengembangkan sayapnya?Dan sayap apa pula yang
selalu mengayomi setiap hisapan dan teriakan atas benih
yang diusung sungut-sungut kala itu.Kau mendesak,lawan-cintamu
mendesak,dan di jeda-kuluman-bibir,kau kembali melihat
si manusia tanpa kepala yang terus mengayuh sepedanya
dan terus pula melambai-lambaikan setangannya, dan berseloroh:

berbahagialah bagi percintaan yang berlangsung lama
berbahagialah bagi kota yang penuh si manusia-tanpa-kepala
berbahagialah bagi bulan biru dengan perumpamaan yang membiru
dan berbahagialah bagi dirimu yang dapat mendongakkan-hati
menyibakkan pinggul-sungai,hanya untuk sekedar memungut
sebentuk cincin yang pernah dijadikan segel bagi tegukan
musim-musim yang mendebarkan:

"Mendebarkan"


[Gresik,2001]

Thursday, March 02, 2006


Meimura (sebuah wawancara) :
BANGUNLAH MASYARAKAT ULUL ALBAB DENGAN SATU CINTA

Gerakan reformasi yang telah digulirkan lima tahun yang latu oleh kawanan mahasiswa seakan mengalami kebuntuan, apalagi bila menyentuh kepersoalan moral, maka segalanya terasa suram dan gersang. Gaung reformasi itu sudah tidak terdengar lagi pekik suara. lantangnya. Yang nampak di petupuk mata kita justru adegan-adegan yang menggelikan sekafigus menyayat hati. Dari mulai sikap kekanak-kanakan wakil rakyat, kebejatan moral para. elit politik, sampai penderitaan rakyat yang selalu ditimpa kemalangan nasib karena kerusuhan, konflik etnis, diskriminasi hukum, kebijakan pemerintah yang tidak lagi memihak kepentingan rakyat dan sebagainya.

Bagaimana. seorang manusia masih bisa disebut sebagai manusia, jika perbuatannya sudah tidak lagi memanusiakan manusia. Maka jangan heran bila kerusuhan, pertikaian, pertumpahan darah dan konflik etnis, agama dan ras kian merebak di belahan bumi pertiwi. Hal ini karena tidak adanya perasaan satu cinta diantara sesama anak bangsa, tukas mas Mei (panggilan akrab Meimura). Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam setiap konflik, kerusuhan, dan pertikaian antar etnis : Wanita, anak-anak, dan orang tua lah korban yang paling menderita. Dan dimana pun anak-anak adalah harapan bagi kelangsungan kehidupan sebuah generasi. Namun apa yang terjadi ketika konflik meledak ?

Anak-anaklah korban pertama dan yang terakhir menanggung akibatnya. Kaum agamawan yang diharapkan mampu mencegah terjadinya konflik tersebut, ternyata tak mampu lagi mengatasinya. Di samping karena ketidakmampuan mereka dalam mencegah aksi-aksi anarkhis, juga karena mereka tidak serius dalam menangani konflik-konflik yang terjadi di tengah masyarakat itu. Ujar mas Mei yang telah mementaskan Tater Monolog "Satu Cinta" nya di beberapa daerah di Indonesia seperti : Palu, Banjarmasin, Nusa Tenggara Barat, Jember, Sidoarjo, Malang, Jombang, Surabaya, Gresik, Bangkalan, Sumenep, Bandung, Solo, Jogya, Jakarta, Medan dan Padang.

Berikut ini petikan wawancara mas Mei -lelaki kelahiran Surabaya yang sutradara sekaligus aktor monolog Satu Cinta dari Teater Ragil Surabaya-dengan Ali Shodikin dan Herman Felani dari AL- FIKRAH seusai pementasan Monolog Satu Cinta di SMU NU 2 Gresik.

  • Pementasan teater "monolog satu cinta" yang mas Mei perankan sungguh luar biasa, apalagi itu diiringi dengan video clip yang menayangkan berbagai adegan kerusuhan dan pembantaian sesama manusia, banyak yang tercengang, menangis bahkan histeris. Sebenarnya apa sich yang melatari Mas Mei mengangkat teater 'monolog satu cinta' tersebut ?
    Pementasan tersebut terinspirasi ketika saya melihat beragam adegan kerusuhan di beberapa daerah baik secara langsung maupun tidak. Dan hati saya semakin teriris ketika menyaksikan adegan pembantaian secara langsung di Sampit. Saya benar-benar merinding dan tak habis pikir, sesama manusianya kok berbuat seperti itu. Kalau seperti ini terus Indonesia akan jadi apa besoknya. Yang saya tangisi dan saya takutkan adalah nasib anak-anak, sebab bisa jadi suatu saat mereka akan menjadi 'Bom Waktu' karena balas dendam. Kalau demikian jadinya, tidak mustahil konflik antar generasi akan terus berlanjut.
  • Sejauh ini bagaimana peran kaum agamawan dalam meredam aksi-aksi brutal tersebut mas?
    Mereka tidak serius dalam menangani berbagai kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah, apalagi pemerintahnya.
  • Melihat fenomena yang seperti ini, apa pandangan Mas Mei tentang Indonesia ?
    Indonesia sudah bubar, karena rasa kepercayaan anak negeri sudah tipis, mereka gampang diprovokasi dan diadu domba.. Dan menurut saya harus ada sumpah pemuda jilid dua.
  • Alasannya ?
    Sebab sumpah pemuda pertama nyata-nyata sudah tidak layak lagi untuk dipakai, hal ini semakin terlihat dengan banyaknya daerah yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena ikatan persatuan dan kesatuanpya sudah tidak, diindahkan lagi, dan hal ini" disebabkan karena rasa kercayaan masyarakat terhadap pemerintah telah habis
  • Lantas kalau diterbitkan lagi sumpah pemuda jilid dua, siapa yang memerankannya ?
    Ya .... generasi baru, seperti kalian ini yang harius memainkannya. Sedangkan untuk generasi tuanya harus mau kembali ke barak. Kalau yang tua-tua masih tetap bercokol malah akan semakin menimbulkan luka sejarah yang berkepanjangan. Pokoknya sudahlah, masalah pertikaian biarlah menjadi urusan mereka yang tua-tua, sedangkan yang muda-muda,harus bisa merubah sejarahnya sendiri ke arah yang lebih baik, dan hilangkan perasaan dendam.
  • Tapi mana mungkin anak-anak yang melihat secara langsung kejadian sadis yang menghina orangtuanya, yang dibantai ramai-ramai bisa melupakan peristiva berdarah tersebut ?
    Itulah susahnya, mereka sulit melupakan luka sejarah yang sangat mempengaruhi kondisi psikologis mereka.
    Ada sebuah penawaran, bahwa untuk membentuk masyarakat yang baik dan mengubah ke arah sistem yang baik pula, termasuk dijajaran pemerintahan, harus dipotong satu generasi ?
    Wah .... kalau menggunakan istilah potong-memotong saya khawatir malah menimbulkan salah tafsir. Nanti bisa-bisa ada semacam pembantaian massal terhadap generasi tua yang masih hidup. Apa ndak sebaiknya yang muda-muda ini yang mengambil sikap, dengan merumuskan dan melahirkan sumpah pemuda jilid dua. Sebab sumpah pemuda pertama, nyata-nyata telah dikhianati.
  • Untuk istilah civil society, yang cukup ngetren di awal-awal reformasi. Menurut mas Mei sendiri bagaimana ?
    Civil society cuma sebatas wacana, belum membuktikan hasil yang kongkrit atas penawaran konsep-konsepnya itu. Jadi ia bukanlah sebuah penyelesaian yang sesungguhnya.
  • Tapi sebagai sebuah wacana dan apalagi konsep civil society itu mengarah pada ranah keseimbangan antara Negara dan rakyat, dimana masing-masing pihak sama-sama memiliki nilai tawar yang cukup tinggi, semestinya kan baik untuk menjaga keharmonisan Negara dan rakyat di masa mendatang, Mas ?
    Iya ... konsepnya itu sudah bagus, tapi pelaku-pelakunya. itu yang kurang ajar. Bagaimana posisi tawar mereka (baca rakyat) kuat kalau kondisinya tetap dilemahkan dan dibodohkan oleh Negara. Sekarang, berapa coba, anggaran untuk pendidikan itu ? Kurang dari 10 % pendapatan Negara. Jadi mana mungkin masyarakat akan berdaya guna kalau anggaran buat pendidikan jauh di bawah standar.
  • Oke, Mas Mei, lantas apa peran sesungguhnya yang harus di lakukan oleh generasi muda sekarang ?
    Sejarah perlu dibuka lagi, generasi muda harus memulai pembicaraannya untuk Indonesia ke depan, Indonesia yang pluralistik dan humanis. Jadikan pengalaman rezim-rezim dulu dan sekarang menjadi ukiran sejarah yang tidak untuk diulangi lagi ke bobrokannya, baik mengenai sentralistik kekuasaanya maupun penegakan supremasi hukumnya.
  • Mengenai luka sejarah yang sudah mendarah daging ?
    Seyogyanya kita pun membangun kesadaran baru untuk mengakhiri permusuhan antar sesama anak negeri. Sebab pada hakikatnya tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan.'Semuanya mengajarkan pada kasih sayang dan sikap hormat menghormati'. Kalau pun ada itu hanyalah ulah oknum-oknuni tertentu yang sengaja memicu keributan di sana-sini.
  • Konkremya, untuk mernbangun kesadaran baru dalarn mewujudkan masyarkat yang ulul albab itu bagaimana?
    Simpel saja menurut saya, bangunlah masyarakat ulul albab dengan satu cinta. Bahwasannya kita hidup dan di ciptakan berbeda-beda, agar saling mengenal dan ber lomba-lomba dalarn kebaikan, bukannya untuk salirig bermusuhan. Marilah kita 'lawan lupa' dan memasuki 'ruang sunyi sejenak saja, agar darah yang mengalir terakhir di bumi ini menjadi 'air suci' yang dapat menghentikan pertumpahan darah itu dan membuka batin kita untuk meraih 'satu cinta' hidup damai berdampingan.

Wednesday, March 01, 2006



Menyaksikan Monolog "Satu Cinta” Meimura
DUA WAJAH, DUA DUNIA
Oleh : Autar Abdillah

Seseorang di depan mata. Sebuah layar juga di depan mata. Bergerak bersama, seirama. Satu kata. Dan, secara verbal, satu bahasa juga. Namun demikian, apakah ia satu wajah dan satu dunia ? Jawabannya, jelas bukan. la,dua wajah, dua dunia.

Pergerakan dua media dengan satu objek yang sama, seperti yang dilakukan Meimura, dan terlebih dahulu digunakan dalam seminar-seminar yang dihadiri banyak orang, dan di ruang yang relatif besar, sehingga dibutuhkan alat bantu untuk mempertegas keberadaan seseorang yang tidak terjangkau oleh pandangan mata, membangun. imaji tersendiri. Bahkan, tidak mungkin justru menghilangkan realitas yang sestungguhnya dari esensi kehadiran itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh sudut pandangan mata yang berbeda. Bila kita menyaksikan suatu objek langsung dengan mata telanjang, maka sangat mungkin, banyak sudut pandang yang bisa dilakukan. Namun, bila menggunakan. kamera, maka sudut pandangan mata menjadi satu. Sesorang yang berada dalam posisi yang tidak sama dengan kamera, maka ia akan melihat dua. pertunjukan yang sama. dengan dua media yang berbeda.

Lain halnya bila objek gambar di layar itu, secara konsisten memberikan penekanan pada substansi lain di luar penampilan seseorang yang ada di atas panggung. Namun demikian, di sinilah letak keunikan teaterikalitas monolog Satu Cinta Meimura. Satu wajah menunjukkan realitas yang sesungguluiya, dan wajah yang lain bisa merupakan wajah dari sesuatu yang kita palsukan, meskipun pada akhirnya, kedua wajah itu sama nyatanya, dan sama palsunya bagi kita. Hal ini merupakan pilihan yang sama kuatnya. Sebab, cinta memang tidak pernah satu, tetapi bisa merupakan satu kesatuan yang mengalir dari rahim pengalaman yang kemudian mengalami kesadaran entitasnya.

Pertunjukan ini selanjutnya membangun transformasi persepsi, bukan melalui tindakan komunikasi verbal, tetapi jurnalisasi-empirik. Masing-masing dibentuk oleh sejumlah penandaan yang memiliki otoritasnya sendiri, dan secara mendasar bergerak melalui cahaya, warna, gerak, gestur dan ruang. Penggunaan kata-kata yang minim di sini, untuk selanjutnya justru diwakili melalui penikmatan aura, visual dan perumparnaan verbal, sehingga penonton diminta untuk beremansipasi sekaligus turut berimajinasi. Model alternatif dari persepsi penonton ini, memiliki pengandaian bahwa pertunjukan juga membutuhkan kepengarangan bersama. Jadi kepengarangan bukan hanya dari sisi sutradara dan aktor semata.


Meimura telah mencoba mendesakkan gagasan ini, meskipun dengan resiko yang tidak kecil. Penggunaan berbagai properti yang tidak biasa, untuk sementara hanya melahirkan eksotisme. Upaya menuju kepada stimulasi "gerakan bersama" dalam membangun intepretasi pertunjukan, tentunya masih mernerlukan alat pengikat yang kuat. Movement simplistik tidak selamanya mampu menstimulasi energi penonton untuk terlibat. Di sinilah persoalan Meimura. vang menjadi titik perhatian saya yang lain.

Namun demikian, pencarian dunia yang relatif tidak biasa untuk eksplorasi yang mengutamakan transformasi persepsi, telah dilalui Meimura. la kemudian melahirkan dua dunia yang kemudian saya sebut sebagai dunia imaji yang sadar, dan. dunia ketidaksadaran yang rekreatif. Imaji yang sadar membawa penonton kepada refleksi dunia nyata dan ketidak sadaran yang rekreatif menciptakan eksotika yang interpretif .Disadari atau tidak, kedua dunia ini mengisyaratkan kesungguhan penonton mengikuti satu demi satu tawaran cahaya, warna, gerak, gestur, dan ruang yang ditampakkan.

Apabila penonton mengabaikan satu sama lain, atau mencoba memisahkan sama sekali sesuatu. yang ditampakkan, maka bukan tidak mungkin Meimura tergiring ke mulut gawang yang tidak dijaga oleh seorang pun penjaga gawang. Untuk itu pula saya memiliki saran yang konstruktif, bahwa pertunjukan ini bisa menunjukkan ilustrasi bunyi yang cukup atau yang ditambahkan. Cahaya, gerak, gestur, dan ruang yang sedemikian kaya memitiki beberapa tarikan dinamika yang melebar. Sementara, fokus atau efek close upnya agak terpisah.

Saya kembalikan sernua pada penonton pertunjukan. ini. Dan, mengajak penonton untuk tidak menutup diri terhadap sernua penampakan yang ada. Karena, semua penampakan itu membantu stimulasi perseptif penonton.*

[Autar Abdillah, peninat teater, staf pengajar drama prodi Sendratasik FBS Universitas Negeri Surabaya ]

SATU CINTA & PUNGGUNG YANG MERUNDUK
0leh : H.U. Mardi Luhung

Apa jadinya, jika realitas yang kita anggap aman ini ternyata sangat rapuh ? Dan realitas yang kita agung agungkan dalam sebuah sumpah, ternyata tak lebih hanya manis di mulut, tapi pecah di kepala ? Barangkall, kita akan terkejut. Dan barangkall kita akan terhenyak, lalu berkata, "Aku sudah tak lagi percaya kepadamu".

Tak lagi percaya , ya, itulah, kata. kuncl, yang sekaligus pembuka dari monolog Satu Cinta Meimura dari Teater Ragil Surabaya. Sebuah monolog, yang secara langsung, (selama Maret -April 2002), saya ikuti pertunjukannya mulai darl Jember, Malang, Surabaya, Bandung, Solo, Gresik dan kembali ke Surabaya. Dan monolog ini, bagi saya, adalah monolog yang cukup menarik. Sebab, saya merasa, selama mengikuti itu, saya seperti. menemukan sebuah kenyataan, jika sebuah teater (termasuk monolog) bukanlah sebuah peristlwa yang berhenti di panggung.

Melainkan, adalah sebuah jendela yang dapat digunakan untuk melihat hal hal yang ada di luaran. Apakah itu hal yang menggiriskan, atau hal yang menakutkan. Dan anehnva, ketika melihat itu sernua, saya bukanlah takut. Tapi sebaliknva, saya justru ingin lebih masuk ke dalam. Masuk kepada keberingasan yang mernotong leher sesamanya, masuk kepada ketakutan seseorang yang dikejar- kejar dst.
Lalu semua rasa lebih masuk pun semakin menggumpal, ketika saat di Bandung saya mesti pergi ke Jakarta, lalu melewati sebuah pegunungan, dan di pegunungan itulah, saya mellhat sekian anak-anak yang berlarian menodongkan tangannya sambil berkata : "Om, beri, Om! Om, beri, Om!" Dan anak anak pun (di mata saya waktu itu), bukanlah anak- anak lagi. Melainkan, sudah berubah menjadi potongan- potongan kisah yang ketlingsut dari realitas yang ternyata rapuh ini.

Realitas yang rapuh ? Akh, sekah lagi ini pun kata kunci dari monolog Satu Cinta itu. Dan memang, sepertinya, lewat monolog itu, Meimura memijakkan kaki keaktorannya lewat ini sernua. Dan lewat ini pula, selama keliling itu, Meimura selalu berkata : "Aku menyesalkan seluruh kerusuhan yang terjadi. Dan akibatnya, mengapa tidak dipikir, jika yang paling kasihan adalah anak -anak".

Barangkali, apa yang dikatakan Meimura, bukanlah perkataan yang terlampau baru dalam konteks kerapuhan yang telah, sedang atau terjadi di realitas saat ini. Dan barangkah juga, itu pun sudah terlampau umum. Tapi, soalnya, apa jika sudah umum, lalu kita biarkan tetap umum ? Entahlah. jawabanya sangat beragam. Dan setiap kepala pun tentu punya jawabannya sendiri. Lalu, di mana titik simpulnya ?

Paling paling justru malah kusut. Dan paling paling juga, seluruh berita dimatikan, seluruh kisah pun di padamkan, dan kita sepakat untuk membikin berita dari kisah sendiri. Yang isinva : "Sudahlah, itu. tak perlu diteruskan. Kita saling melupakan saja. Dan bla bla bla. Kita pun tenang dan pulang dengan senyum yang merekah rekah."

Apakah sesederhana ini ? Tentu saja tidak. Sebab, jika diakui, kita sudah terlampau sering melakukan kekonyolan seperti ltu. Dan sudah sering pula, bagaimana kisah dan berita vang sudah ada, mesti dibelokkan atau digelapkan. Dan celakanya, kita pun percaya jika usaha itu aman. Tak membawa konsekuensi apa apa. Pacdahal, siapa yang dapat menduga jika berita dan kisah pun dapat melakukan perlawanan balik. Perlawanan yang menggeliat. Yang bangkit dari pembelokan dan kegelapannya, lalu berdikit dikit membuka dirinya, seperti serdadu serdadu membuka seluruh perkakas perangriya.

Jadinya, kita pun tersedak. Tak yakin apa yang salah. Tembok-tembok pun penuh dengan tulisan cakar ayam.
Sekolah-sekolah penuh dengan batu. Rumah-rumah penuh dengan potongan tangan. Dan sampai puncaknya, bendera-bendera dikibarkan, bukan atas nama persaudaraan. Tapi atas nama yang dianggap wahyu yang mirip wahyunya para nabi. Padahal, akh, apa kita lupa, jika pintu untuk para nabi sudah ditutup? Dan wahyu pun telah digenapkan ? Ya, barangkati cuma bahtera Nuh yang ditunggu. Bahtera Nuh yang telah dikatakan tokoh gundul, anonim, gugup, yang ada dalam monolog Satu Cinta itu. Bahtera Nuh yang akan membawa anak-anak kita ke dunia baru. Entah dunia mana. Dunia yang benar-benar tidak pernah serapuh seperti realitas yang ada. Fantastis ! Meimura. fantastis ! Satu Cinta fantastis !

Cukup ! kita tak perlu ngomong ini. Sebab, tak ada teater yang tak fantastis. Semuanya fantastis. Dan semuanya, hanya bisa dimainkan oleh kita yang tetap percaya, jika di balik yang tampak, selalu ada yang tak tampak. Yang pura pura. Yang tertawa sambil mengunyah air mata. Yang menangis sambil mengatur siasat. Yang gemerlap, tapi padam ketika segalanya telah usai. Dan setelah usai itu kita pun kembah ke hotel. Menghitung pengeluaran. Menghitung hutang. Sambil berteriak "Inilah teater, inilah kerja kebudayaan untuk peristiwa kebudayaan."

Lalu, sambil tetap mengagumkan kerja sendirl, kita pun pesan mie, kopi dan rokok. Setelah itu kita. pun kembali hanyut oleh sesuatu perjalanan esok hari yang demikian tak masuk akal. Dan lamat-lamat, dari sebuah radio butut milik tukang warung, terdengar seorang penyanyi bencong menyanyikan lagu yang baitnya seperti ini : "Laki atau wanita sama saja. Siapa suruh untuk ke kota. Siapa suruh untuk ke kampung. Tertawa dan menangis satu rasa. Menangis dan mesem satu kata. Oh, telah jauh masa kanak. Oh, telah lampau masa kanak. Bapak mati. Ibu mati. Siapa suruh."

Bapak mati, ibu mati, siapa suruh ? Ya, jika itu tokh memang mati dalam keadaan yang biasa, memang tiada yang menyuruh. Tapi, jika sebaliknya ? Kita pikir ini adalah ketakwajaran. Dan ini pulalah, yang barangkali kata kunci dari tema yang ingin disodorkan monolog Satu Cinta itu. Sebab, bayangkan, apa yang terjadi, ketika tanpa ba-dan-bu, bapak kita mesti dimatikan. Atau tanpa ini-dan-itu, ibu kita pun ganti dimatikan. Entahlah. Yang jelas, kita akan menjadi yatim-yatim yang kehilangan pijakan.

Yatim-yatim, yang melihat matahari bukan dengan tatapan kemurnian. Melainkan, dengan dendam. Dan sepert~ ularular yang kulitnya penuh bulu yang gatal, beringsut menuju ke sumur-sumur. Dan di dalam sumur-sumur itulah, kita akan melepaskan seluruh bulu. Dan berteriak : "Kami hanya punya satu tujuan, siapa yang meminum air sumur ini, dia pun harus merasakan kutukan kami tanpa ampun !Kutukan yang barangkali seperti kutukan yang telah menimpa ibu dan bapak kami.

Kutukan yang datang bukan karena kesalahan. Bukan juga karena sebuah pemahaman. Tapi, hanya karena. kami tak punya lagi alasan untuk tak menolak. Tak menolak ketika rumah-rumah dibakar, gedung-gedung diledakkan, partai-partai ditabrakan, ketua-ketua ditelerkan dan sampai puncaknya : Cinta-cinta pun dijadikan kendaraan untuk menjemput apa yang disebut dengan darah, terkaman dan pengusiran. Kendaraan yang selalu melaju di punggungpunggug yang merunduk. *

[H.U. Mardi Luhung, penyair yang tinggal di Gresik]

Sunday, February 26, 2006

TEATER RAGIL SURABAYA

Berdiri tahun 1985 di Surabaya dibidani oleh:
Imam Cb, Aries Machfud, Sutar Rian, Koesnaryo.
Mengawali produksinya di drama TV Stasiun Surabaya.
Karya-karya Teater Ragil banyak digelar baik drama televisi
di stasiun TV Surabaya, drama Radio di Stasiun RRI Surabaya
dan juga pertunjukan panggung.

Sebagai kelompok yang produktif di Kota Surabaya
selain menggelar produksinya sendiri juga sering melakukan
kerjasama dengan kelompok kelompok seni yang lain.
Kini Teater Ragil Surabaya juga mengurusi teater anak-anak,
ada tiga puluh dua anak-anak yang berusia tujuh tahun
hingga lima belas tahun berlatih di sanggar Teater Ragil Surabaya
dengan didampingi oleh seorang ibu, Ria Adam.

Markas Sanggar tempat para kreator Teater Ragil berkarya dan berlatih berada di
Sanggar Teater Ragil Surabaya
Jl. Petemon II A No. 32 b Surabaya
Telepon: 031 - 545 6761
hp 0818301252.
E-mail:
meimura_ragiltheatre@yahoo.com.

MEIMURA YANG GELISAH
0leh : Henri Nurcahyo

Ada yang berkata, bahwa kegelisahan adalah identik dengan kreativitas seniman. Kalau ada senirnan. yang selalu tenang dan tak pernah terusik oleh kegelisahan, konon dia telah berubah menjadi batu, yang hanya. menggelinding apa adanya. Kegelisahan adalah semacarn roh kreatif yang secara terus menerus mernberikan semangat bagi seniman. untuk terus menerus mencipta, menyiasati berbagai problerna dan terus berbuat dalam konteks merespons kehidupan. ataupun menciptakan teks kehidupan sendiri. Seniman yang sejati, katanya, adalah seniman yang selalu gelisah dan tak pernah mengenal kata. lelah. Karena kegelisahan itulah yang menyelamatkan dirinya dari penyakit kernapanan. Karena terus berbuat itulah yang menjadikannya tetap hidup dengan roh keseniannya.

Sedangkan Meimura, barangkali tak berlebihan kalau kernudian disebut sebagai pekerja seni yang tak pernah kenal. lelah. Ia terus menerus menyiasati segala kendala dalam berkesenian. Meski dikenal sebagai sutradara dan aktor teater, toh Meirnura menjelajah berbagai seni pertunjukan. Kalau tak menjadi pernain, dia berperan dalarn tata lampu, penata panggung, penulis naskah, pelatih dan bahkan turun langsung dalarn penyebaran publikasi pernentasan. Bukan hanya itu, arek Suroboyo dari karnpung Petemon ini juga giat mengorganisasi kegiatan teater di sejumlah kota, menggairahkan anak anak muda dalam diskusi, mengembangkan teater anak anak, berkiprah dalam festival teater serta sekian banyak aktivitas pementasan lainnya. Meimura memang seorang pekerja yang ringan tangan.

Secara formal, Mei (demikian panggilan akrabnya) memang mernimpin Teater Ragil Surabaya, toh memang tidak gampang selatu muncul dalarn kebersarnaan sebuah kelompok pada setiap pementasan. Ada saja hambatannya. Tetapi Mei tak mau berdiam. diri dengan keterbasan itu. Dia. terus tampil, meski hanya. seorang diri. Malah dengan kesendiriannya itulah sekaligus mengukur kualitas keaktorannya. Pementasan monoplay dilakukan. di mana-mana, dengan sutradara dan penulis naskah dia sendiri. Teater Ragil Surabaya akhirnya memang tidak terlalu penting untuk diakui sebagai sebuah kelornpok, yang jelas narnanya selatu berkibar dan memang telah melekat dalam diri lelaki yang bernama asli Meiyono ini.

Maka Meimura pun menjelajah kc mana mana, mulai kampus karnpus di Surabaya, sejumlah kota. di Jawa, kota kota kecil di Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, sampai dengan Australia Barat. Di Negeri Kangguru itu dia pernah menimba ilmu soal tata artistik, pentas kolaborasi namun juga memberikan workshop akting yang "membingungkan" peserta bule lantaran sulit dilacak teorinya. Dalam diri seorang Meimura memang terdapat jlwa seorang kreator, penggiat kesenian, dan selalu gelisah agar terus menerus berbuat dalam lautan kesenian.

Sebagai kepala keluarga dengan dua anak, Mei harus pandai pandai menyiasati kerja keseniannya agar asap dapur juga bisa mengepul. Beruntung isterinya, yang juga seorang aktris dan pekerja teater, bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Di sinilah dibutuhkan kreativitas untuk bisa hidup dari kesenian tapi tetap menghidupi kesenian. Apa boleh buat, seniman teater mernang tak seberuntung pelukis yang mampu menjual karya dengan harga juataan rupiah. Mei harus terima pasrah ketika pernentasannya hanya dihargai dua ratus rlibu rupiah saja misalnya.

Siasat dalam tekanan politik juga harus dilakukannya ketika negeri ini masih dikendalikan oleh rezim yang represif . Tahun 1997 silam, orang masih mernbayangkan tentang kekuasaan Soeharto yang sudah kelewat batas, mencekeram di semua sisi kehidupan. Seorang Meirnura toh gelisah untuk berbuat sesuatu dalarn kapasitas sebagai seniman pertunjukan. Waktu ltu, sosok Soeharto bagaikan ikan yang dikultuskan, yang terlalu bangga dengan kekuasaannya, padahal dirinya bagalkan berada dalam akuarium.. Mei lantas merangkum beberapa artikel dan mengangkatnya menjadi tema dalarn pernentasannya, "Bapak dalarn Akuariun ". Dan ketika Soeharto di arnbang keruntuhannya, Mel tak mau berdiarn dirl untuk ikut mempercepat gerak roda reformasi. Dia terjun langsung dalam barisan aksi di kornpleks Balai Pernuda tanpa harus kehilangan jati dirl sebagai aktor, sutradara dan penggiat kesenian yang responsif.

Teater adalah dunianya. Dan lewat teater Mei ingin menjadikannya sebagal jendela untuk menengok kernbali tragedi kemanusiaan yang dengan garnpang dilupakan lantaran tertirnbun berbagai peristiwa lainnya. Dia tawarkan sarana kontemplasi ketika banyak orang bingung dan suntuk dengan problema kehidupan. Teater yang disuguhkannya kadang juga menjadi sarana, katarsis agar persoalan kehidupan tidak terlalu berat sebagai beban. Dengan teater puta Mei ingin menyapa kehidupan. agar menjadi ramah. Karena itu, apa yang terus menerus dilakukan Meimura, sesungguhnya adalah teater itu sendiri. Dia harus bisa menernpatkan posisinya secara tepat dan benar, kapan harus berbuat dan kapan. saatnya untuk berdiarn diri dalarn pandangan penuh kesiapan.

Dalarn diri seorang Meirnura, sesungguhnya telah tersimpan banyak file dari ragarn kehidupan yang dilakoninya. Tinggal sekarang, bagaimana merangkai sernuanya itu menjadi suatu keutuhan yang saling menunjang. Dalam beberapa hal, Mei mugkin berhasil mernbuat rangkaian tersebut. Namuni ketika sampai pada suatu tahapan tertentu, nampaknya dibutuhkan daya dorong tersendiri agar apa yang dirnilikinya tidak lantas hanya menjelajah pada tataran yang horisontal belaka. Dengan kata lain, sekian banyak jam terbang yang telah dimilikinya itu jangan sampai hanya menjadl kumpulan kliping belaka. Hanya menambah jumlah namun tak menambah kualitas. Itulah yang sesungguhnya menjadi tantangan seorang Meimura sekarang ini.

[Henri Nurcahyo, penulis kesenian,tinggal di Sidoarjo]

Saturday, February 25, 2006

RIWAYAT HIDUP MEIMURA

Lahir di Surabaya 1963, mengenal teater sejak anak anak di perkumpulan wayang orang dan ludruk yang ada dikampungnya JI.Petemon I I Surabaya.
Aktif di berbagai even festival seni di Surabaya, juga bekerja di produksi kelompok kesenian di Surabaya sebagai penata artistik dan penata cahaya.
Kini aktif di Dewan Kesenian Jawa Timur.

1976 bergabung dengan teater pelajar Putra Wijaya asuhan Wayan Wisnuadi,

1978 bergabung dengan teater Lekture Surabaya, latihan seni tari di PLT Wil w a t i k t a Surabaya.

1980 mendirikan group lawak Boneka,
1981 bergabung dengan Padepokan Seni Citra Loka, latihan Pantomin dengan teater pelajar Widyabakti bersama Akhudiat, mendirikan teater anak'Citra', sebagai siswa kursus pendidikan guru drama 'Perintis'.

1982 mendirikan dan sebagai pemain kelompok ludruk 'Monthero'.
1984 mendirikan kelompok ludruk anak anak 'Monthero', menulis naskah ludruk 'GoroGoro' dan menggarapnya mengantar group ludruk Monthero sebagai peserta terbaik Festival ludruk sekodya Surabaya.

1985 bersama teater anak anak Citra bergabung dengan teater Ragil Surabaya.
1986 Workshop penulisan skenario drama TV dan film.
1987 bergabung dengan ludruk GEMAS Pusura Surabaya, Staf Artistik Pekan Penata Tari Jawa Timur penyelenggara Studio T Surabaya, menggelar naskah 'Goro Goro' dengan ludruk Monthero di halaman Dewan Kesenian Surabaya.

1988 membidani pergelaran Teater Ragil Surabaya di Taman Budaya Jatim dengan naskah karya Arifin C.Noer 'Umang Umang'.

1989 menggarap naskah karya Vredy Kastam Marta'Syech Siti Jenar'produksi Teater Ragil Surabaya di Taman Budaya Surabaya dan Surabaya Mall, salah satu sutradara pertunjukan drama kolosal'Viaduk Sebuah Saksi'karya Sam Abede Pareno.

1990 Workshop teater kontemporer dengan Genjitsua Japan,menggarap pertunjukan happening art pembukaan pameran pelukis Setyoko,koordinator 11 pertunjukan kolosal pembukaaan PORWANAS di gelora Sepuluh Nopember Surabaya,staf artistik parneran lukisan Damar kurung mbah Masmundari,workshop dengan Sardono W.kusumo di Dewan Kesenian Surabaya.

1991 salah satu sutradara pergelaran dance teater ' Kidung Cak Durasim' di pelataran Dewan Kesenian Surabaya produksi Teater Ragil Surabaya dan Studio tari Citra, workshop teater konternporer dengan Putu Wijaya, stage manager pergelaran musik stamic Quartet Cekoslovakia penyelenggara Hyatt Regency dan Studio T Surabaya.

1992 menulis dan menggarap naskah adaptasi ' Bianglala'mengantar Teater Ragil Surabaya sebagai group terbaik III lomba drama HUT Jawa Pos, menulis naskah adaptasi'Bandit Bandit' dan menggarap poduksi teater Ragil Surabaya, melatih dan menggarap pertunjukan Pantomirn Kelompok dokter spesialis ortopedi RSUD.Dr.Soetomo Surabaya, workshop penata cahaya dengan Pak Hengky Solo.

1993 Menulis naskah pertunjukan'Kuman'menggarapnya produksi Teater Ragil Surabaya di Perhimpunan Persahabatan Indonesia Amerika, seleksi Pertemuan Teater Indonesia Dewan Kesenian Surabaya, Parade Drama Dewan Kesenian Surabaya, Pentas alternatif Taman Budaya Surakarta, menggarap naskah karya Kikuchikhan terjemahan Egorahgo ' Orang Gila Diatas Atap' produksi Teater Ragil Surabaya di Sepekan Naskah Naskah Jepang IKIP Malang. Menggarap naskah karya Tubagus Hidayatullah 'Laut Luar Laut Dalam'di Festival Seni Chairil Anwar di AKSERA Surabaya.

1994 Menulis naskah'Tanda Seru'menggarap produksi Teater Ragil Surabaya di Temu Teater Valentine Day penyelenggara Teater Pavita Surabaya, di Forum Tiga Menguak Takdir Dewan kesenian Surabaya dan di Universitas Gajayana Malang, stage manager Pekan Seni Pemuda penyelenggara AKSERA.

1995 menulis naskah'Periuk Sang Perkasa' produksi Teater Ragil Surabaya di Parade Seni WR.Supratman dan di pelataran Dewan Kesenian Surabaya bersama Kelompok Seni Rupa Bermain, menulis dan menggarap pertunjukan poduksi Teater Ragil Surabaya'Anak Yang Hilang'di Hotel Mustika Tuban penyelenggara Forum Teater Tuban dan di UNMUH Malang.

1996 memainkan monolog 'Anak yang hilang'di Sepekan Seni Experimen Taman Budaya Jatim, menggarap naskah karya Arifin C.Noer 'Dalarn Bayangan Tuhan'di PPIA acara Sepekan Naskah Arifin C.Noer penyelenggara Yayasan Pengembanagn Seni Rupa Surabaya(AKSERA),menulis naskah Bukan Milik Batu Batu produksi Teater Ragil Surabaya dan Bidang Kesenian Kanwil Dikbud di Taman Budaya Jatim, terlibat kolaborasi seni pertunjukan di Atrage Festival Perth Australia Barat karya A.Fauzi 'Upacara' produksi Yayasan Seni Surabaya, menulis naskah monolog 'Lingkaran' dan memainkan di Malang, Surabaya dan Makassar, pelaksana produksi Festival Seni Surabaya penyelenggara Yayasan Seni Surabaya.

1997 Menulis naskah'Bapak dalam akuarium' dan menggarap produksi Teater Ragil Surabaya di Taman Budaya Jatim ,menggarap pertunjukan Parrentesis produksi Gardamido Surabaya di Hotel Westin Surabaya.

1998 menggagas dan mernainkan pertunjukan aksi reformasi di pelataran Balai Pemuda Surabaya, melatih dan menggarap pertunjukan Pantomin Taruna AKABRI Laut Surabaya, stage manager PEKSIMINAS seksi drama penyelenggara UNAIR Surabaya.

1999 penggagas dan salah satu sutradara pertunjukan multimedia pembukaan Festival Seri Surabaya di pelataran Taman Hiburan Rakyat Surabaya, panggagas dan menggarap pertunjukan Ritual kelahiran' di Patirtan Jolo Tundo Trawas Majokerto, workshop scenography dengan mbah Rudjito dan Sony Sumarsono di STKW pelaksana produksi Festival Seni Surabaya.

2000 penggagas dan salah satu sutradara pertunjukan multimedia pembukaan Festival Seni Surabaya, mernainkan monolog'Lingkaran'di Festival Cak Durasim 1, menggarap naskah Lebah Kecil produksi teater Anak Ragil Surabaya, memainkan pertunjukan 'Benang Merah Kelahiran' di pembukaan pameran palukis Setyoko dan Hardjiman, menulis naskah pertunjukan monolog'Satu Cinta', pimpinan produksi Festival Seni Surabaya.

2001 penata artistik Festival Musik Kalimas III, memainkan monolog Satu Cinta di Indonesia Dance Forum di Palu, Banjarmasin Monolog Festival, Temu Teater Kawasan Timur Indonesia (KATIMURI) di Nusa Tenggara Barat, pembukaan pameran Kidung Perdamaian di balai Surabaya Post, Sidoarjo, Jombang, Malang, Jember, Festival Cak durasim II, Sumenep.

2002 memainkan monolog Satu cinta di Lab Teater STSI Bandung, Teater Arena Taman Budaya Surakarta, Gresik, Jakarta, Universitas Kristen Petra Surabaya, Padang , Medan.








MEIMURA NGUDARASA
Oleh : Akhudiat


Auditorium Universitas Kristen Petra, Surabaya, 27 Maret. Di pentas serba hitam, di lantai gundukan pasir/tanah di tengahnya sebongkah batu, cangkul dan kendi air. Di dinding belakang layar untuk citraan slide (still image), film (moving image), citraan ganda (double image) dari pertunjukan itu sendiri. Tata cahaya dan tata suara. Payung dan bunga tabur. Dengan peralatan panggung dan bentuk pentas itu Meimura menyampaikan monolog bertajuk Satu Grita.

Sinopsisnya : Kekerasan itu telah membatu dalarn tubuhnya. Ketakutan telah dibunuh dalam hati dan pikirannya. Tubuh itu menerjang, mengharu biru, dalam mempertahankan periuknya. Tiba tiba ia terhenyak. Kehidupan seakan terhenti. Berbagai suara, berbagai pemandangan mengenaskan menyeruak masuk relung sempit hati dan pikirannya yang telah lama gersang. Kini tidak ada lagi perlindungan dan kebanggaan tetapi kehidupan harus tetap berjalan meski tubuh melenguh dan terus menerus berhadapan dengan ketakutan.

Sangat berbeda dengan sinopsis atau plot well made play (lakon cerita lengkap), katakanlah, tipe ATNI, Teater Muslim, Teater Lembaga IKJ, Teater Koma, atau naskah Anton Chekov, Shakespeare, Ibsen, dan sejenisnya. Naskah atau teks, kalau bisa dinamakan naskah atau teks, dari Meimura tidak eksplisit memuat peran, petunjuk panggung, babak, adegan, sampai rincian scene, sebagaimana. petunjuk ilmu dramaturgi. Saya menangkap karya pentas Meimura adalah sebuah "puisi". Imaji (citraan), imajinasi (daya khayal), imagery (tamsil), simbol, bahasa puitis, ritus, efek visual & bunyi, kesan, “pesan", gema. Semuanya mengalir bersama musik dominan geletar & gaung petikan"dawai dawai" bambu, tembang suara wanita sebagai lambang Ibu bagi pelaku tunggal (Meimura) yang gundul dan nyaris telanjang.

Permainan payung di tangan, begitu payung digigit dan wajah pelaku tegak tertutup payung bertangkai, maka berubah bukan sosok manusia yang semula ringkih, tapi malih rupa tatajalma jadi Sesuatu/Something. Mungkin
dewa, atau demi god (setengah dewa setengah manusia), supra manusia, hewan purba, mahluk yang pernah/sedang/akan muncul dalam mimpi, mahluk khayal dari jaman jauh di masa lalu/masadepan, semacam fiksi ilmiah (science fiction). Atau tiwikrama, penjelmaan dahsyat darl "kekerasan" itu. sendiri. Adegan "Sesuatu" ini sebagai klimak penemuan Meimura sekaligus pertemuannya dengan yang namanya "Dewi Sem" (sejenis, barangkali,dengan Muse, sang dewi inspirator tembang, puisi, seni, dan ilmu dari mitologi Yunani) yang mungkin pernah diimpikannya. Semacarn impuls bawah sadar. Meimura berdialog dengan diri sendiri, ngudarasa, dalam tiwikrama itu.

Semuanya mengalir. Tapi begitu dia menyampaikan barisbaris kalimat, terasa ada konslet diskontinyuitas. Terasa prosais. Terpatah. Untung, bukan patah arang. Teater Meimura sudah memilih ripe puisi/mantera/nyanyi, maka ungkapan kata yang prosais perlu. dihaluskan lagi dengan stilisasi irama, sehingga. bernuansa puitis, dan tidak harus berwadak puisi/sajak/syair. Kalimat prosa pun bisa bernuansa puitis, contohnya, karya karya Kahlil Gibran, atau Pengakuan Pariyem Linus Suryadi berujud prosa liris (prose poem).

Imaji imaji visual di latar belakang perlu lebih selektif, sehingga mendukung gema/kesan bahwa "kekerasan itu. sendiri harus dibunuh dalarn hati & pikiran" dan "kita melawan lupa, memasuki ruang sunyi, agar darah yang mengalir terakhir di bumi ini menjadi air suci yang dapat menghentikan pertumpahan itu, dan membuka batin kita untuk meraih Cinta, hidup berdampingan dengan damai", terutama "melindungi anak anak dari berbagai konflik & pembantaian". Katarsis ini yang akan dibawah penonton seusai tutup layar atau tutup lampu (black out).

Gundukan pasir/tanah dengan sebongkah batu di tengah, mengingatkan pada "seni taman jepang", sebagai miniatur pulau kecil di tengah garis garis lingkaran gelombang laut. Memang, tak perlu meniru/mengutip/menyontek begitu saja seni taman Jepang yang kesohor itu. Namun, paling tidak ,pasir/tanah,batu,kendi, dan cangkul,mestinya menimbulkan aura taman mimiatur tersendiri dan khas, baik nuansa indonesia,jawa,bali,Cina,Jepang,Indo Persia,atau pun Taman firdaus [bentuk miniaturnya adalah sajadah].

Meimura berupaya bermonolog,ngudara,sekaligus berdialog secara implisit pada diri,luar diri,diri lain,lingkungan,alam,dan semesta raya.Pribadi hamba berdialog dengan Mahapribadi,mengutip penyair-filsuf Iqbal.jagat kecil berdialog dengan Jagat Besar.

Satu Cinta menyiratkan gema 'dialog batin" [inner dialogues],lewat bahasa tubuh,suara,bunyi,warna,cahaya dan benda-benda.kita penonton disapa,diajak masuk,menikmati dan mengalaminya sendiri.

[Akhudiat,sastrawan dan budayawan,tinggal di Surabaya]

Wednesday, February 22, 2006

SURAT DARI MEIMURA

Kekerasan itu telah membatu dalam tubuhnya.
Ketakutan telah dibunuh dalam hati dan pikirannya.
Tubuh itu menerjang,mengharu biru demi mempertahankan periuknya.

Tiba-tiba ia terhenyak! Kehidupan seakan berhenti.
Berbagai suara,berbagai pemandangan mengenaskan menyeruak masuk
relung relung sempit hati dan pikirannya yang telah lama gersang.

Kini tidak ada lagi perlindungan dan kebanggaan tetapi kehidupan
harus tetap berjalan meski tubuh melenguh dan terus menerus berhadapan dengan ketakutan.

Surabaya 2001.